HAM secara filosofis

Dua kubu yang berseberangan, mereka mendasari perdebatan HAM hingga kini. Yaitu paham relativisme budaya dan paham universal. Ada satu buku bahasan hak asasi manusia berisi kritik relativisme budaya. Relativisme budaya itu tidak ada. Itu sesuatu yang tidak mendasar. Budaya sebagai tempat untuk melegalkan segala hal di negara yang bersangkutan. Declaration of ruman right itu hanya pernyataan saja menurutnya. Kami, masyarakat manusia mengakui adanya ham,  tapi tidak mengetahuinya sebagai aturan yang mengikat. PBB pun tidak memasukkan aturan hak asasi manusia yang mengikat. Perdebatan antara universalisme dan relativisme budaya. Hak asasi manusia itu tidak dibuat dengan aturan yang mengikat. PBB punya aturan hak asasi manusia, declaration of human right. Kesepakatannya adalah kami warga negara dunia berkomitmen untuk menegakkan hak asasi manusia, tapi pelaksanaannya kita tentukan kemudian. Kami warga negara dunia sepakat adanya hak asasi  manusia , berkomitmen untuk menegakkan hak untuk hidup. Hak untuk hidup sebagainya negara ya hak segalanya, tidak ada hukuman mati. Tapi jika seseorang melanggar hak asasi manusia itu maka dihukum agar tidak mengganggu hak orang lain.  
Awal mula perdebatan hak asasi manusia 
Perdebatan itu luar biasa seperti kaum sofis dari yunani kuno. Tidak ada kebenaran mutlak, tetapi adanya kebenaran relatif. Itu dikritik oleh Aristoteles, jadi apa yang dipegang manusia? Karena kebenaran ini relatif, itu menjadi benar tergantung argumen kita. Pada masa itu, yang dapat membuktikan benar itu hanya orang pintar bersilat lidah atau pemikir atau filsuf. Karena itu yang dianut masyarakat.  Sekolah di sana pada saat itu mengajarkan cara pintar bersilat lidah, berdebat, mengakali. Alhasil, orang saling mencari sesuatu yang dianggapnya licik. Ini bukan moral saja yang diajarkan tapi mengenai cara memenangkan pertandingan yang penting pada saat itu. Begitu juga relativisme budaya dan universalisme yang tergantung bagaimana argumen kita. Sekilas, asal kata sekolah, itu untuk orang pengangguran, bukan untuk pekerja, hanya untuk orang yang lepas dari tanggung jawab mencari uang. Berdasarkan kondisi ini, di negara-negara Asia yang menganut relativisme budaya pemikirannya masih berpikir tentang uang. Buku-buku hak asasi manusia yang mengkritik hak asasi manusia itu berasal dari Barat. Pengertiannya condong ke individualis yang beraliran individualisme. Lalu, mengapa relativisme budaya masih bertahan walaupun pemikir Barat mendominasi jurnal? Pemikiran ini, jika menurut orang itu universal, tapi ditentukan oleh negara pelaksanaannya mungkin relativisme budaya. Suatu negara berkaitan dengan kekuasaan. Sementara, hak asasi manusia universal ini sasaran tembaknya itu negara bukan individu. Menurut hak asasi manusia yang disasar itu orang yang berkuasa, jika negara memakai hak asasi manusia ini maka dengan sendiri negara tersebut menyimpan amunisi yang lambat laun menggerogoti kekuasaannya. Di Indonesia, pemerintah masih mempertahankan hak asasi manusia relativisme budaya. Di Eropa, dahulu ingin tidak universal itu. Tetapi, Pada zaman kegelapan, setelah abad itulah pemikiran kritis mulai berkembang, puncaknya di revolusi Prancis. Dua puluh tahun ke depan kemungkinan indonesia akan berubah. Dari jaman Soeharto, pemahaman hak asasi manusia itu signifikan mengubah dari relatif budaya ke universal. Salah satunya dengan diubah UUD 1945. Awalnya, hak asasi manusia itu tidak masuk perdebatan, tetapi sekarang masuk. Itu hal yang melatar belakangi hak asasi manusia antara relativisme dengan universalisme. 
Apa yang dimaksud hak asasi manusia universal? Apa yang dimaksud hak asasi manusia relativis?  
Di satu sisi, pendukung universal mengatakan kepada pendukung relativis bahwa makin banyak budaya primitif yang pada akhirnya berkembang seperti budaya barat. Sebaliknya, pendukung relativis budaya berkata ke pendukung universal bahwa budaya tradisional tidak dapat diubah. Dari sisi kata-katanya pun terlihat bahwa perdebatan ini menggunakan kata-kata tajam untuk menghabisi untuk pendapat lainnya. Dengan kata primitif, itu rasanya berarti orang lain seperti terkurung, seperti katak dalam tempurung. 
 Menurut perspektif moral universal, manusia itu memiliki moral universal. Asal muasal hak asasi manusia itu dari perkembangan nilai moral. Piont di sini yaitu moral, individu. Banyak definisi hak asasi manusia itu berupa hak individu tidak dapat diganggu gugat, tanpa hak itu manusia tidak dapat hidup selayaknya manusia. Penekanannya pada individu. Paham universal , individu manusia. Apakah manusia itu berbeda di Indonesia, Asia, dengan di Eropa sana? Tidak ada perbedaan. Hak asasi manusia itu pada individu. Jika di sana mendapat hak, di sini juga harus mendapat hak. Karena sama-sama manusia. Logikanya seperti itu. Hak ini diberikan pada individu, karena individu yang menentukan hidupnya sendiri bukan masyarakatnya. Sesama manusia itu datangnya dari Tuhan Yang Maha Es, jadi tidak boleh dicampur adukan kepentingan. Tidak ada alasan bagi orang lain atau pun negara untuk mengurangi hak individu ini. Hak itu bukan dari negara, tetapi dari kodratnya sebagai manusia. Sekali lagi, penekanannya pada individu bukan pada masyarakat. Di mana pun mereka berada seharusnya manusia mendapatkan perlakuan sama, kebebasan sama, kebebasan berfikir. Hak itu ada bukan dari negara atau pun penguasa tapi karena terciptanya manusia. Oleh karena itu, hak itu tidak dibatasi oleh ruang, waktu, jenis kelamin dan sebagainya. Siapa pun dia, akan mendapat hak itu. Itulah universal. Hukum alam ini sudah ada sebelum manusia ada.Kita melihat jauh segala ilmu pengetahuan itu akan mendapat pemahaman kokoh apabila memahami sejarahnya. Terutama ilmu sosial, sejarahnya dari zaman sebelum masehi. 
  
 

Di Yunani kuno itu ada dua pihak yang berkuasa. Yang satu bernama Sparta, lainnya bernama Yunani.  Sparta identik dengan kekerasan, tentara kuat, pemberani. Sementara Yunani, orang bebas, berada di pinggir pantai, banyak orang singgah di sana jadi tidak ada ikatan. Perdebatan hak asasi manusia tertutup pada zaman kegelapan. Kemudian muncul lagi pada zaman modern.  
Hak alamiah diperlukan oleh individu terlepas dari masyarakat. Jadi penekanannya pada individu bukan ada masyarakat. Dengan demikian, hak alamiah valid tanpa persetujuan elitis juga. Hak itu didapat secara alamiah, alam, natural. Pendukung pemikiran ini abad 17. Kini abad modern terbagi dua yaitu modern dan kontemporer. Abad modern itu terbagi dua yaitu renaissance dan pencerahan. Renaissance itu abad ke-15 hingga abad ke-16. Pada masa itu, pemikir hanya ingin mengembalikan kejayaannya dari zaman Yunani kuno. Teringat pada historis indah pada zaman itu dan ingin kembali ke sana. Meski pun pada saat itu ada penemuan, tapi harus disandarkan pada kitab suci maka kebenaran itu dari kitab suci. Apabila keluar dari aturan kitab suci, maka tidak diakui penemuannya. Tapi di zaman pencerahan, bukan hanya kembali dari zaman  Yunani kuno tapi lebih kepada pemikiran individu. Di Inggris, Eropa, Spanyol, abad pencerahan itu berlangsung soft, secara alamiah, pelan-pelan. Tidak demikian di Prancis, terkenal mengubah pemikiran lama ke baru dengan cara kekerasan. Ada ungkapan bahwa segala sesuatu yang membuat jelek itu harus dimusnahkan. Sehingga pada masa itu, timbul pergolakan semacam borjuis untuk menumpas kaum agama seperti rabi pada zaman revolusi Prancis. Ini yang menginspirasi Hegel. John locke pada abad ke-17, ia sudah berpikir individualistis, diwarnai pemikiran filsuf.  
Pendukung pendapat ini John Locke dalam bukunya The Critic of Goverment. Ada cap bahwa dia berfikir seperti itu bukan murni karena pemikirannya. Dia seorang yang berpikir tapi seperti pengamat saat sekarang condong diberi uang oleh penguasa. Ilustrasinya, jika kita menjadi pengamat pada saat itu, di bawah kendali orang lain, maka ada tiba-tiba masuk uang ke rekening bank kita. Kemudian, dihubungi orang lain bahwa uang sudah ditransfer jadi tidak menyerang pendapat si penguasa itu. Walaupun Nitze gila, tetapi pemikirannya berguna maka akan diambil juga. Contoh lainnya, seseorang  itu pemikirannya tidak sesuai yang dia lakukan. Seseorang tidak dilihat dari apa yang dilakukannya, tetapi dari apa pemikirannya. Seseorang mengatakan bahwa kita harus mengutamakan masyarakat tetapi dia hidup dalam keterasingan. Dia menghargai moral tetapi mengkritik perempuan. Sehingga, pernikahannya gagal. Suatu hari dia diterima mengajar di universitas Berlin. Dia ingin melihat kehebatannya seperti Hegel. Caranya, menempatkan jam kuliahnya bersamaan dengan kelas Hegel. Alhasil, kelas dia kosong tetapi kelas Hegel terisi. Intinya, seseorang tidak melihat siapa  diri Anda. Tetapi melihat dari pemikiran seseorang.  
Dalam universal, hak asasi manusia pada pemenuhan pribadi. Pada relativis budaya, kepentingan komunitas menjadi prioritas utama. Hak asasi manusia dipahami pendukung relativis budaya sebagai imperialisme. Dengan kata lain, itu cara Barat meluaskan imperialismenya. Dengan pemahaman universalisme dapat memecah belah masyarakat dan memudahkannya untuk masuk.  
Apa alasan-alasan yang memperkuat relativis? 
Teori relativisme budaya, isu relativisme budaya setelah perang dingin usai. Menurutnya, kebudayaan merupakan satu-satunya sumber keabsahan hak atau kaidah moral termasuk hak asasi manusia. Hak asasi manusia itu perlu dipahami konteks budaya masing-masing. Para pembelanya menolak universal apalagi didominasi budaya tertentu atau imperialisme budaya Barat ingin melakukan imperialisme tertentu. Hak asasi manusia memperluas imperialisme Barat ke negara Asia. Para pemikir relativis menilai nilai-nilai Asia berbeda dari nilai Barat. Ternyata nilai moral itu berbeda, Asia yang mengutamakan kebersamaan, gotong royong. Barat mengutamakan individualisme. Dari pemikiran abad ke-18 pada saat itu di eropa. 
Melalui film, kita dapat memahami perdebatan hak asasi manusia ini. Di dalam banyak film yang beredar, pelajaran kehidupan keluarga banyak diproduksi oleh para pembuat film di Asia. Sementara negara Eropa menerapkan peran individu. Dari film itu, menggambarkan secara tidak langsung mengenai negara bersangkutan. Misalnya film India, menggambarkan keadaan yang terjadi di sana, satu sama lain kekerabatan keluarga di negara Asia berbeda dengan negara beraliran liberal. Dari menonton film saja, kita mengetahui nilai moral yang berbeda. Sekarang, nilai dari Barat dicoba diterapkan di Asia, ingin diubah, rasanya tidak mungkin. Kita berpendapat seperti ini bahwa hak asasi manusia itu relativisme karena inilah yang dimasukkan ke kepala kita, yang kita lihat sehari-hari, yang baca setiap hari menurut kita suatu kebenaran. Lain halnya, apabila anak kita berkesempatan belajar ke Amerika, membawa pulang ajaran yang berbeda dengan orang  tuanya, lalu dibicarakan setiap hari, sehingga keimanan hak asasi manusia relativis kita akan luntur secara alamiah.  
Apa motif di balik hak asasi manusia universalisme? 

Melalui dua perspektif, universalisme dan relativisme. Dari universalisme bahwa hak asasi manusia itu hakiki, itu kodrat manusia. Hak yang ada dengan sendirinya. Maka, manusia berpikir harus berkembang, harus diberikan hak itu. Jika ada negara mengcounter hak asasi manusia itu, maka itu kesalahan negara bersangkutan. Dicurigai, untuk mempertahankan status para penguasanya. Berdasarkan universalisme, imperialisme dilakukan melalui hak asasi manusia, menjajah melalui hak asasi manusia. Jika  kita membaliknya, apa latar belakang universalime hak asasi manusia itu tidak universal karena kultur masyarakat setempat? Karena bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa masyarakat lain. Jika individu masuk ke suatu komunitas, maka harus mengikuti aturan komunitasnya. Itu sudah dianut oleh masyarakat negara universal. Sementara paham universal itu keinginan pemerintahan yang ada untuk mempertahankan kekuasaannya. Kecurigaan ya mungkin seperti itu.

Comments